Petualangan sang pemancing laut

Belajar dari pengalaman mancing di berbagai lokasi membuat Benyamin Hassan piawai menaklukkan ikan buruannya. Lebih dari selusin rekor nasional ia pecahkan. Namun, belakangan ia menentang aturan IGFA soal tag and release

Dokter muda itu terkapar di ruang gawat darurat. Serangan jantung memaksanya berbaring lemah. Setelah kondisinya membaik, kardiolog dan psikiater yang merawat menyarankan agar ia menekuni hobi yang paling disukainya. Itulah awal Gus benyamin Muladi Hassan menggeluti hobinya: mancing laut dalam pada 1993.

Ben, begitu ia biasa disapa, melampiaskan kesukaan mancing di Pelabuhanratu, Sukabumi dengan kapal layar sederhana. Semakin tertantang, alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro itu menyambangi lokasi mancing lainnya seperti Lampung, Bengkulu, Mentawai, Padang, dan Manado. Kali ini dengan menyewa kapal yang jauh lebih mewah.

Kamus Mancing dasar Untuk Pemula

Ambon dan sekitarnya seperti Banda serta Haruku menjadi lokasi paling favorit. “Saya tahu Ambon paling cantik. Lautnya bagai kristal sehingga kita bisa melihat pemandangan hingga 30 meter bawah laut,” tutur angler itu. Itulah sebabnya ia betah berlama-lama trolling di Ambon Manise. Dengan longboat yang dilengkapi dua mesin berkekuatan masing-masing 40 PK, ia memburu marlin (Makaira nigricans).

Ketika mentari jatuh di kaki langit dan perahu telah ditambatkan di dermaga, ia masih menyempatkan mancing dasar. Menurut dia, mancing dasar justru memiliki tantangan yang lebih besar daripada trolling. Pasalnya, “Kita mengangkat beban dari bawah ke atas,” tutur pehobi masak dan fotografi itu.

Malam ia lewatkan di atas perahu yang bergoyang dipermainkan riak kecil. Keesokan harinya saat fajar merekah ia kembali menjajal kepiawaiannya menaklukkan ikan bermoncong itu. Sekali mancing minimal ia menghabiskan waktu setengah bulan. Dari pengalaman di berbagai lokasi itulah ia mengetahui teknik memancing.

Rekor ikan kuwe

Untuk melengkapi hobi, Ben mendesain sendiri kapal mancing Kemala Sari. Harga kapal berukuran 10m X 2m dengan dua mesin masing-masing 85 PK itu Rp70-juta. Dengan kapal berkecepatan 22 knot itulah ia menikmati trolling dan kadang-kadang casting.

Merasa mempunyai pengalaman, penyandang gelar Dokter Teladan Nasional pada 1982 itu mulai mengikuti berbagai game fishing. “Tapi tetap saja kegagalan sering terjadi karena ketatnya persaingan,” ujar kelahiran Tangerang 48 tahun silam itu merendah.

Padahal banyak rekor nasional yang ia ukir. Bahkan hingga saat ini rekor itu masih ia genggam erat. Untuk jenis kuwe, Ben malah pemegang rekor terbanyak. Ia pemegang 2 rekor kuwe mata besar (Caranx sexfasciatus) masing-masing di kelas kenur 2kg dengan mengangkat 2,4kg dan 3kg (6,0kg).

Di kelas kenur 3kg dan 4kg untuk kuwe sirip biru (Caranx melampygus) rekor Ben juga belum terpecahkan. Dengan kenur itu ia masing-masing menaklukkan bluefin trevally berbobot 4kg dan 5kg. Ayah dari Gusti Benindra Pratomo dan Gusti Rizky Prasetya itu tak cuma lihai mengendalikan kuwe. Rekor nasional untuk jenis kakap merah (Lutjanus sp), lima jari (Scomberiodes sp), tenggiri (Scromberomorus commerson), dan tuna gigi anjing (Gymnosardaunicolor) juga ditorehkannya.

Rekor-rekor itu umumnya dipecahkan dalam kelas kenur kecil. Ia memang lebih tertarik menggunakan kenur kecil lantaran, “Tantangannya lebih besar.” Selain itu, kesuksesannya memecahkan rekor karena ia tahu betul habitat, pola makan, dan jenis pakan ikan yang ia buru.

Ben juga tercacat sebagai angler tercepat dalam menaklukkan marlin. Dalam turnemen Piala Presiden 1997 ia hanya butuh waktu 10 menit menaklukkan ikan yang juga disebut setuhuk itu. Padahal kebanyakan para angler butuh waktu satu jam-an, bahkan lebih.

Protes T&R

Hingga saat ini ia sudah menge-tag and release (T&R) tak kurang dari 17 ikan di berbagai turnamen. Anehnya pemilik klinik Kemala Sari itu menentang program yang dicanangkan IGFA (International Game Fishing Association} itu. Sebab, dari beberapa turnamen banyak ikan yang ditag kemudian mati mengapung.

Pada turnamen Piala Presiden 1997 misalnya, tiga marlin diketahui mati setelah ditag. “Saya setuju di release saja,” kata pehobi berkebun itu. IGFA adalah organisasi mancing dunia yang berdiri pada 1939 dan bermarkas besar di Amerika Serikat.

Protesnya tidak hanya T&R tetapi juga angler yang sering mengangkat hasil pancingan dan dibiarkan begitu saja. “Itu gaya angler yang sudah dihinggapi snobisme,” ujar dokter spesialis anak lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Menjadi angler memang bukan berarti harus seenaknya. Setidaknya itulah sikap Ben yang kini lebih sering merelease hasil buruannya. Rasa “kemanusiaan”nya begitu mencuat. Ia misalnya merasa trenyuh ketika memergoki seseorang menangkap penyu dan menjualnya dengan harga Rp20.000. Ben lantas membeli penyu itu dan melepaskan kembali ke pantai.

Hobi mancing yang selama ini ia geluti juga membawa dampak positif bagi kesehatannya. Jantung kronis dan asma akut yang diderita dokter itu sirna sudah. Mungkin pergi ditelan gelombang laut membiru atau tersapu desah sang bayu ketika angler itu asyik dengan strike. Itulah sebabnya, Ben senang saja memancing walau membutuhkan dana Rp2-juta per hari. Padahal sekali mancing menghabiskan waktu berhari-hari bahkan dua minggu bila ke luar Jawa.

IBM Bird Farm: Bidan Susi Susanti sampai Roberto

H. Muhammad Chuzaini, salah satu maniak perkutut dari Korda Jawa Timur saat ini memang telah mundur dari arena konkurs. Namun, nama IBM Bird Farm, penangkaran perkutut miliknya tetap ramai dipergunjingkan.

Bahkan menjadi trade mark di kalangan maniak perkutut. Seakan tidak ada lagi bird farm lain yang sebagus penangkar ini. Tak heran jika hasil ternakan mereka banyak diminati para hobiis fanatik.

Dalam tiga tahun terakhir nama IBM Bird Farm benar-benar mencuat. Pasalnya, anakan-anakan perkutut hasil temakannya memiliki mental juara. Bambang Rukmirito, pengamat perkembangan perkutut di Jawa Timur pun mengakuinya.

“Di mana pun konkurs diadakan, ring IBM pasti tertera dalam daftar juara,” ungkap Bambang kepada Trubus di kantornya. Roberto, Happy Selancar, Desywati, dan Satos hanyalah beberapa di antaranya. Bahkan Roberto, cucu Susi Susanti yang lahir di kandang IBM-32 menjadi bintang konkurs sepanjang 1999.

Geser dominasi wilayah barat

Di kancah konkurs, IBM (Indonesia Bagian Madura) Bird Farm memang telah banyak makan asam garam. Sejak awal ‘ 1990-an, H. Muhammad, pemiliknya sudah melanglang j buana dari satu konkurs ke konkurs lain.

Bahkan pria berdarah Madura ini menjadi salah satu dari segelintir maniak perkutut asal Surabaya yang jjWW mampu bersaing dan mematahkan dominasi penggemar wilayah barat (Tasikmalaya, Bandung, dan DKI) di arena konkurs.

Mia Audina, Potong, Cucuk Rambo, J? Maradona, Lenggang Kangkung, Damarwulan, Bokor Mas, dan Susi Susanti adalah sederet nama perkutut miliknya yang sempat menjadi langganan juara di berbagai konkurs, baik regional maupun nasional.

Malahan Susi Susanti, hasil ternakan Warna Agung Tasikmalaya yang dibeli H. Muhammad seharga Rp20-juta pada ;iaj 1993 itu sukses mencatat legenda sebagai burung terbaik yang merajai arena konkurs sejak 1995—1997.

Tak heran jika salah satu media di Jawa Timur mengukuhkan Susi Susanti sebagai salah satu nominasi perkutut terbaik Indonesia 1995. Sedangkan Bokor Mas menjadi salah s£ju nominasi terbaik dalam kelompok yunior.

Muhafi, putra H. Muhammad yang meneruskan hobi sang ayah pun mengakui, nama besar IBM Bird Farm tak terlepas dari ketenaran perkutut-perkutut juara itu. Karena ingin mendapatkan keturunan juara, “Kami mulai mencoba menangkarkan para juara itu sejak 1995,” ungkap Muhafi kepada kami di rumahnya

Tambah kandang

Awalnya memang cuma beberapa kandang saja karena hanya untuk dipakai sendiri. Namun, karena piyik hasil tangkaran mereka diminati penggemar lain, jumlah kandang pun terus bertambah. “Mau nggak dikasih, nggak enak. Namanya juga teman,” jelas Muhafi.

Karena itu jika sampai pertengahan 1995 jumlah kandang di sana baru sekitar 100 kandang, saat ini melonjak jadi 250 kandang. Itupun belum termasuk kandang yang dibangun bekeijasama dengan Batara-Tara BF.

Tak semua kandang di bird, farm itu menghasilkan anakan berkualitas prima. “Ada juga yang tak mau bunyi,” ujar Muhafi. Piyik berdarah Mia Audina misalnya, jarang menunjukkan prestasi bagus di arena konkurs. Begitu pula dengan turunan Damarwulan.

Hanya piyik keturunan Susi Susanti saja yang banyak memperlihatkan prestasi baik. Beberapa di antaranya adalah Roberto yang menjadi perkutut terbaik 1999, Happy Selancar, Desywati, Satos, Batistuta, dan Bintang Kythavin yang merupakan cucu dan cicit Susi.

Karena terbukti banyak memunculkan turunan juara, pembeli pun banyak yang ngotot hanya ingin membeli trah Susi saja.

Peminat tidak hanya asal Surabaya, “Penggemar dari Bangkok pun kini banyak yang tertarik dengan turunan Susi Susanti,” lanjut Muhafi. Tim tangguh seperti Selancar termasuk salah satunya yang senang memborong piyik turunan Susi.

Susi idola

Saat ini ada beberapa kandang yang menjadi andalan IBM. Di antaranya kandang IBM-2, IBM-27, IBM-29, IBM-32, IBM-45, IBM-65, dan IBM-100.

“Semuanya berisi turunan Susi Susanti,” jelas Muhafi. Lihat saja kandang 27, berisi pasangan anak Bokor Mas dan cucu Susi. Atau di kandang 32 yang merupakan pasangan PSN-28 Thailand dan cucu Susi.

Menurut Muhafi, hasil ternakan dari kandang-kandang itu memang telah terbukti bermental juara. IBM-2 misalnya, menghasilkan Permata Hijau dan Rupawan.

IBM-29 menghasilkan Surya Selancar, atau IBM-65 memunculkan Bintang Kythavin. Dari kandang 32 bahkan muncul segudang juara seperti Roberto, Happy, Diesel, Batistuta, dan Desywati. Karena itulah kandang ini menjadi idola para penggemar perkutut saat ini.

Memang prestasi prima bukan dicapai oleh anak Susi. “Justru cucu dan cicit Susi yang kini muncul sebagai juara-juara konkurs,” urai Muhafi.

Roberto dan Happy Selancar, merupakan hasil ternakan kandang IBM-32. Begitu pula Satos yang memakai ring IBM-100, hasil perkawinan PSN-28 dan IBM-3 yang salah satu induknya adalah cucu Susi.

Lalu berapa harga jual piyik dari kandang-kandang itu? Untuk turunan Susi, harga minimal Rpl-juta/ekor piyik berumur 1,5—2 bulan. Malahan jika bercincin IBM-32, ’’Harganya bisa Rp5-juta—Rp7-juta/ekor,” ungkap Muhafi di akhir percakapan.

Kala Koi Sakura Memetik Juara

Mata Jitsuo Takagi mengamati satu per satu puluhan koi berumur 2 tahun di salah satu kolam milik Dainichi Farm di Niigata, Jepang. Hobiis di Kota Fukuoka, Jepang, itu kepincut pada 3 koi yang menurutnya paling ideal.

Saat itu pada tahun lalu ukuran ketiga koi rata-rata 35 cm sehingga ia menitipkan ketiganya hingga dewasa di Dainichi Farm, peternakan koi ternama. Sayangnya setahun kemudian dari ketiga koi itu pertumbuhan salah satu koi mandek

Setahun berselang lagi-lagi salah satu koi pilihannya tumbuh kurang optimal. Hanya satu ekor yang tersisa dan Takagi pun memindahkan perawatan ke Narita Koi Farm untuk mendapatkan perawatan lebih intensif.

Koi terakhir yang tumbuh optimal itulah yang ia ikutkan pada kontes The 43rd All Japan Combined Nishikigoi Show, di Tokyo Ryutsu Center, Jepang, pada 4-5 Februari. Showa sansoku berumur 10 tahun itu sukses meraih gelar grand champion.

Pemain koi senio mulai Unjuk gigi

Menurut pemain koi senior asal Jakarta, Winarso T, yang hadir dalam kontes, koi milik Takagi memang layak menyandang gelar paling bergengsi itu. “Bentuk tubuhnya terlihat gagah dan kiwa (batas antara dua warna, red) terlihat tegas,” ujarnya.

Kemenangan showa sansoku milik Takagi menjadi bukti bahwa tsunami dahsyat yang melanda Jepang setahun silam tak menyurutkan pamor koi di negeri Sakura. Kontes tahunan itu selalu meriah.

Pada kontes itu 1.308 koi milik 280 hobiis dari berbagai negara seperti Jepang, Indonesia, Malaysia, Thailand, Belgia, dan Amerika Serikat beradu molek.

Perhelatan akbar itu bukan hanya menjadi puncak kegembiraan bagi para hobiis tuan rumah yang sukses meraih gelar paling bergengsi. Kompetisi itu juga menjadi ajang unjuk gigi hobiis koi tanahair. “Sekitar 30% peserta milik orang Indonesia,” ujar Winarso.

Beberapa di antaranya sukses meraih gelar bergengsi. Contohnya koi milik Felix Denanta, hobiis di Jakarta, sukses meraih 3 gelar utama: runner up grand champion, superior champion, dan superior male champion.

Demikian pula koi milik hobiis Yohanes Yusuf asal Bandung, Hartono Sukwanto (Bandung), Didi Wikara (Bogor), Hendrawan Sudarpo (Jakarta), Isma Cahyono (Jakarta), Samurai Koi Centre (Bandung), dan Edwar Gani (Bandung).

Kontes koi Semarang

Bersamaan dengan kontes koi di Jepang di Semarang, Jawa Tengah, juga berlangsung kontes koi untuk para hobiis di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Sebanyak 183 peserta milik 35 hobiis beradu molek pada kontes yang bertajuk Is’ Semarang One Day Koi Show.

Pada ajang perdana di kota Lumpia itu persaingan paling ketat di kelas gosanke, terutama untuk ikan berukuran lebih dari 40 cm. Selain itu, “Keempat juri sempat kesulitan menentukan grand champion,” ujar Roby Iwan, ketua juri.

Setelah melalui perdebatan sengit, kohaku milik Achun Go asal Semarang sukses meraih gelar grand champion. “Dalam penilaian utama koi itu memenuhi kriteria ideal dari segi warna, motif, bentuk tubuh, dan stamina ikan,” ujar Roby.

Bentuk tubuh koi berukuran 54 cm itu menyerupai kapal selam. Warna tubuhnya pekat, penampilan energik, dan memiliki batas warna alias kiwa yang tegas.

Pada kelas nongosanke, persaingan paling ketat justru terlihat pada koi berukuran kurang dari 40 cm. Dalam pertarungan itu hikarimono milik Ishman Tjahjadi asal Semarang meraih gelar melati grand champion.

Menurut ketua Semarang Koi Club, Helmy Iskandar, kontes di pusat perbelanjaan Sri Ratu itu bukan hanya menjadi ajang pemilihan koi terbaik, tapi juga untuk menjalin silaturahmi antarhobiis. “Kontes ini diharapkan dapat mengundang semakin banyak hobiis baru,” ujarnya.

Perawatan kolam koi: sentosa karena keranjang tingkat

Keranjang stainless steel berukuran 40 cm x 1,5 m harganya Rp2-juta-Rp3-juta,” ujar pemilik Golden Koi Centre itu.

Bakki shower berbahan plastik lebih murah, harganya cuma Rp300.000/buah. Toh perangkat itu bisa digunakan hingga 5 tahun.

Hobiis juga bisa membuat sendiri bakki dari bahan-bahan tak terpakai atau perangkat rumah tangga seperti krat minuman ringan atau keranjang buah.

Di kolam berkapasitas 80 ton itu Winarso menggunakan 2 bakki shower yang berdiri bersebelahan. Masing-masing terdiri dari 5 bakki shower.

Filter keset

Mula-mula air dari kolam masuk ke filter utama berkapasitas sekitar 30% dari total air kolam. Menurut Suwira Susanto, konsultan kolam koi di Jakarta, kapasitas filter idealnya 50% dari kapasitas kolam.

Air dari kolam masuk ke vortex. Di dalam vortex air diputar kencang sehingga kotoran mengendap. Air bersih dari vortex kemudian dialirkan menuju ruang filter mekanik berisi roli brush di petak pertama hingga keempat.

Sekat antarruang filter dibuat setengah tinggi filter yang berkedalaman 1,5 m. Oleh karena itu air mengalir stabil dan langsung menabrak mate-filter keset-yang tergantung dalam kamar kedua hingga keempat.

Filter keset berfungsi mengendapkan kotoran yang lewat tanpa menyumbat pori filter dan sekaligus media tempat hidup bakteri pengurai nitrit dan amoniak. Filter keset tahan hingga 10 tahun.

Di ruang filter terakhir, terdapat 4 buah lampu ultraviolet berdaya 20 watt yang digantung berjarak 10 cm dari permukaan air kolam. Lampu UV berfungsi membunuh bakteri patogen yang membahayakan kesehatan ikan.

Air dari filter itu kemudian dialirkan ke bakki shower menggunakan pompa 400 watt. Bakki shower-berukuran 40 cm x 80 cm-berbahan plastik diletakkan berdampingan masing-masing dari lima lapis keranjang setinggi 30 cm.

Di dalam bakki shower terdapat media berpori berupa batu bioaktif (bioactive stone) untuk mengurai amonia dan nitrit. Bisa juga tambahkan bioball yang fungsinya sama dengan bioactive stone. Bioball diletakkan pada bakki shower teratas.

Alternatif lain menggunakan media biokristal. “Biokristal bentuknya lebih porous sehingga bisa menampung bakteri lebih banyak,” kata Sugiarto Budiono, pengelola Jakarta Koi Center.

Keuntungan lain, batu buatan berbahan keramik dan kaca itu tetap bisa menapung bakteri meski dicuci bersih. “Beda dengan filter berbahan plastik yang bakterinya langsung hilang setelah batu dicuci,” ujar pemilik kolam yang juga menggunakan bakki shower itu.

Kebutuhan biokristal cukup 10% dari volume air sehingga tidak boros tempat.

Air keluar dari bakki shower dalam ukuran kecil-kecil. Prinsip bakki shower memang meniru riak air yang memecah di atas bebatuan.

Dengan begitu luas permukaan permukaan yang bersentuhan dengan udara lebih banyak sehingga kadar oksigen terlarut meningkat.

“Penggunaan bakki shower juga menghasilkan oksigen terlarut lebih banyak,” kata Winarso.

Manfaatnya, metabolisme ikan menjadi lebih baik sehingga bergerak aktif dan doyan makan. Dengan teknik filterisasi seperti itu Winarso tidak pernah mengganti air kolam.

Menurut Winarso bakki shower tidak mutlak dipakai, ia bersifat tambahan. Namun, beberapa hobiis menginginkan kesempurnaan, sehingga mereka menggunakan bakki shower. Winarso memasang bakki shower pada 5 kolam berkapasitas 200, 80, dan 60 ton.

Bisa tunggal

Sugiarto menuturkan bakki shower mungkin juga digunakan secara tunggal. “Dengan catatan, air yang keluar tetap berkualitas baik, yaitu jernih dan rendah kadar amonia, dan nitrit,” katanya.

Amonia biasanya berasal dari kotoran ikan dan sisa makanan. Kadar amonia di atas 0,01 mg/l air dapat meracuni ikan.

Dalam proses filterisasi secara biologi, amonia diubah menjadi nitrit oleh bakteri Nitrosomonas. Sebaiknya kandungan nitrit di kolam di bawah 0,2 mg/l air, di atas itu bisa meracuni ikan.

Nitrit dapat mengikat hemoglobin di darah ikan sehingga menurunkan kemampuannya membawa oksigen. Salah satu tandanya ikan terlihat berenang di permukaan dan di sekitar air yang keluar dari filter.

Tingginya kandungan amonia, nitrit, dan nitrat membuat kulit ikan mengalami iritasi dan memproduksi lendir berlebih.

Lalu nitrit diubah menjadi nitrat oleh bakteri Nitrobacter. Nitrat bermanfaat sebagai sumber nutrisi bagi alga. Namun, kandungan nitrat di atas 50 mg/l air akan membuat alga berkembang cepat sehingga mempengaruhi kesehatan koi.

Untuk memaksimalkan peran bakki shower, Sugiarto menyarankan bakki disusun dalam beberapa lapis disesuaikan dengan volume air kolam.

“Semakin banyak air kolam, maka jumlah bakki yang tersusun pun semakin banyak,” katanya. Hal itu pun diamini Winarso. Terbukti, koi di kolam Winarso aktif bergerak, doyan makan, dan berwarna cerah.

Persahabatan Benny dan ikan Koi

Dua ekor chagoi, seekor sowa, dan dua kohaku segera menghampiri saat Benny memasukkan tangan kiri ke kolam dan membuat riak-riak lembut di permukaan airnya.

Lalu shrooot! Dengan lahap chagoi berwarna kuning emas menyedot pakan di telapak tangan Benny. Begitu juga chagoi lain berwarna kecokelatan dan seekor kohaku. Setiap pagi ikan-ikan samurai di kolam itu memang sarapan bersama Benny.

Ikan anggota famili Cyprinidae itu kembali mendapat suapan dari si empunya di malam hari sekembali Benny dari kantor. Jatah makan siang didapat dari pramuwisma yang bertugas ikut merawat kol.

Ikan yang pertama kali diternakkan di Jepang pada 1980-an itu juga anteng ketika direktur sebuah perusahaan jasa ekspedisi itu membelai-belai bagian kepala.

Sifat jinak salah satu yang membuat Benny kepincut koi. Koi membikin jatuh hati karena bentuknya elok dipandang dan berwarna menarik kombinasi putih, merah, hitam, dan keemasan. Gaya berenang ikan lambang kasih sayang dan persahabatan di Jepang itu pun elegan.

Benny memelihara 11 koi koleksi di kolam berukuran 3 m x 4 m dengan kedalaman 1 m. Layaknya sahabat, koi mendapat tempat khusus di dalam rumah. Posisi kolam koi bersebelahan langsung dengan ruang makan dan tanpa sekat Dengan begitu Benny bisa menikmati liukan ikan samurai di kolam dengan atap terbuka itu sembari bersantap di meja makan.

Fasilitas terbaik untuk koi pilihan

Nishigokoi, secara harfiah berarti ikan emas berbrokat, red, itu hidup sentosa karena Benny memberi fasilitas filter terbaik. Sistem penyaringan air dengan menggunakan biokristal itu bervolume 50% volume air kolam.

Lazimnya 25-30%. Dengan filter itu air selalu jernih, pengurasan air kolam cukup 3-4 bulan sekali. Setiap dua kali dalam sebulan petugas dari salah satu perusahaan importir koi datang ke rumah untuk mengecek kesehatan ikan. Pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari itu demi mendapat bentuk tubuh ikan dan warna samurai yang baik.

Benny kepincut koi tujuh tahun silam. “Saya ini memang suka merawat satwa,” tutur Benny. Di kediamannya yang asri di Jakarta Utara, pemilik beberapa restoran itu juga mengoleksi sepasang serama.

Waktu Kami berkunjung ayam terkecil di dunia yang didapat dari pameran flora dan fauna di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, setahun silam itu hilir mudik di halaman samping rumah berlapis rumput gajah mini yang terpangkas rapi.

Selama beberapa jam di pagi hari sepasang serama itu memang dibiarkan berkeliaran. Rumah mereka sebuah kandang elok dengan ukiran jepara terletak di samping kanan sebuah gazebo yang tak kalah elok.

Di gazebo itulah Benny biasa menikmati sarapan ditemani sepasang serama di kandang dan seekor bluefront amazon, paruh bengkok berbulu hijau nan indah yang pintar bicara.

Kecintaan terhadap satwa kelangenan sudah terasah sejak Benny masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) di kampung halaman di Medan, Sumatera Utara.

Benny kecil merawat ayam, merpati, kelinci di halaman belakang kediaman orangtua yang cukup lega. Ketika hijrah ke Pulau Jawa pada 1990-an karena urusan pekerjaan kelangenan itu berganti dengan seekor anjing boxer, lalu maskoki, cupang, dan dua labrador retriever.

Perjumpaan dengan teman-teman kolektor koi membuat Benny mengenal ikan samurai itu.

Pengalaman Pahit dalam beternak koi

Layaknya sebuah persahabatan, ada cerita manis dan pahit antara Benny dan koi. Pada suatu malam ketukan di pintu kamar membangunkan Benny.

Pramuwisma yang mengetuk pintu menyampaikan kabar buruk: seekor kohaku sepanjang 65 cm meloncat keluar kolam dan menggelepar-gelepar di lantai yang berbatasan dengan ruang makan.

Segera saja Benny menghampiri kolam, mengangkat ikan samurai itu, dan memasukkannya ke dalam kolam.

Ikan selamat tapi lama-kelamaan kondisinya terus menurun. “Mungkin ketika dia melompat dan menggelepar-gelepar ada bagian tubuh yang luka atau memar,” tutur pemilik seekor american akita berbulu putih cokelat berumur 2 tahun yang diimpor dari Belanda itu.

Ayah sepasang putra-putri itu pun mesti merelakan Cyprinus carpio itu untuk dirawat orang lain. Kali lain Benny melihat salah satu saringan air berbentuk kotak di dasar kolam bergeser posisi. Tanpa pikir panjang ia langsung masuk ke kolam berketinggian air sedada itu. “Saya khawatir ada koi terluka karena terkena bagian tajam saringan air,” kata Benny.

Alih-alih mengamankan koi-koi yang baru saja diberi pakan, justru seekor kohaku tiba-tiba bergerak tidak terkendali. Beberapa saat kemudian koi berukuran 60 cm itu meregang nyawa. Dari peristiwa itu Benny baru paham ucapan seorang rekan bahwa jangan membuat koi yang baru selesai makan terkejut

Toh pengalaman buruk itu tidak membuat Benny berpaling ke lain kelangenan. “Setiap hobi pasti ada risikonya,” tutur pria penggemar desain interior itu.

Malah ia kian keranjingan mengoleksi jenis lebih baik. Semakin mengenal koi, kian kuat keinginan pria ramah itu untuk mengganti koleksi lama dengan koi baru berkualitas lebih baik.

Memasukkan “penghuni” baru bisa jadi saat-saat mendebarkan sebab kedatangannya berisiko mendatangkan penyakit yang membuat ikan lain sakit. Oleh karena itu sebelum menggabungkan koi baru, ikan itu dikarantina dulu.

Dengan begitu “penghuni” lama dan baru bisa bergabung dengan sentosa. Di kolam di halaman belakang rumah yang bermandi cahaya lampu di malam hari ikan-ikan samurai itu memulai persahabatan dengan Benny.

Leaf Roll Ancam Para Petani Kentang

Tanpa sebab yang jelas, daun kentang milik pekebun di Pangalengan menggulung ke atas. Pertumbuhannya tegak dan warna berubah jadi kuning pucat.

Selintas menyerupai tabung. Ketika dipegang daun terasa lebih kaku ketimbang biasanya. Setelah dicabut, terlihat umbi yang terbentuk demikian kecil.

“Mucuk julang begitu istilah petani di sini,” jelas Wildan. Kebanyakan petani tak menyadari kalau musuh dihadapannya adalah virus. Yang jadi masalah, virus ini akan terus terbawa ke generasi berikutnya. “Petani bisa rugi hingga 100% biarpun itu baru penanaman generasi kedua,” tutur Sri Hendrastuti, Dosen Hama dan Penyakit IPB, Bogor.

Ironisnya, “Virus ini sulit dideteksi saat masih berbentuk bibit,” kata Wildan. Ia baru ketahuan “belang”-nya ketika bibit telah ditanam.

Setelah ditanam, mungkin penurunan produksi yang teijadi sekitar 2%. Penanaman selanjutnya makin memperjelas penurunan produksi.

Menurut petani lulusan IPB ini, penurunan produksi yang kedua bisa bervariasi. Pada varietas yang lebih tahan, mungkin hanya 4%, tetapi bagi yang tak tahan bisa juga melonjak menjadi 70%.

Potato Leafroll Virus

Potato Leafroll Virus(PLRV)[1] adalah virus penting pada kentang. Ditenggarai “Hampir seluruh daerah penghasil kentang di Indonesia telah terserang virus ini,” kata Sri. Sayangnya baru sebagian kecil petani yang mengenalnya.

Gejala primer yang acap ditemukan ditandai dengan menggulungnya daun bagian atas, terutama anak daun. Warnanya berubah menjadi kuning pucat. Pada beberapa kultivar, warna yang ditemukan ungu, merah muda atau merah.

Gejala sekunder timbul karena umbi bibit sudah mengandung virus. Infeksi biasanya teijadi pada musim tanam sebelumnya.

Tanaman yang terserang memiliki ciri daun menggulung, kerdil, pertumbuhan tegak dan daun bagian atas tampak berwarna pucat. Daun-daun yang menggulung menjadi kaku dan berbulu. Terkadang bagian bawah berwarna keunguan.

Subspesies andigena memiliki gejala yang berbeda. Teijadi klorosis di pinggiran daun dan jaringan antartulang daun bagian atas, pertumbuhan menjadi tegak dan seringkali kerdil.

Penggulungan daun-daun bagian bawah biasanya berkurang. Penularannya teijadi melalui aphid dan umbi terinfeksi.

Pengendalian virus ini cukup sulit. Menurut Petunjuk Penanganan Virus pada Kentang yang dikeluarkan Balitsa, PLRV bisa dikendalikan melalui seleksi tanaman sehat. Bisa juga dengan membatasi tanaman sakit melalui roguing pada proses perbanyakan bibit [2].

Referensi

[1] Potato Leafroll Virus in Potato Crops. https://www.agric.wa.gov.au/potato-leafroll-virus-potato-crops. Accessed 10 Nov. 2021.

[2] Pengenalan Penyakit Yang Menyerang Pada Tanaman Kentang. https://balitsa.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/berita-terbaru/367-. Accessed 10 Nov. 2021.

Dua Varietas Cabai Unggulan Asal Tanindo

Muncul 2 varietas unggul cabai untuk Anda. Papirus layak dipilih kalau mau membuat tepung cabai lantaran kadar airnya sangat rendah. Jet Set ideal ditanam di daerah endemik penyakit layu bakteri. Varietas ini tahan terhadap penyakit yang mematikan itu.

Cabai besar (Capsicum anuum) sebenarnya bisa dikelompokkan menjadi 3 golongan : cabai keriting, cabai ukuran sedang, dan cabai besar sekali.

Selain ukurannya berbeda, daya tahan terhadap serangan penyakit, tempat penanaman ideal, daerah pemasaran, dan harga jual juga tidak sama. Perbedaan karakter itu menimbulkan alternatif bagi pekebun untuk memilih varietas paling cocok.Cabai Unggulan

Cabai Papirus

Jika daerah penanamannya berketinggian 0 – 500 m dpi, Papirus bisa dijadikan pilihan. Dalam waktu 70 hari setelah tanam (HST), buahnya sudah bisa dipanen, sementara bunga bermunculan sejak 22 HST.

Kalau buah itu diukur, panjangnya berkisar 13 cm – 15 cm; diameter, 1 cm – 1,4 cm. Bobot per buah 5 gram – 7 gram. Buah bermunculan dari tanaman bersosok kompak dengan ketinggian 75 cm dan lebar 80 cm.

Sebenarnya Papirus dapat juga ditanam di dataran tinggi. Namun, ukuran buah menjadi lebih besar, sehingga dikhawatirkan mempengaruhi harga jual. Kalau pekebun dihantui anjloknya harga saat panen, Papirus paling cocok menjadi pilihan. Sebab, varietas ini kadar airnya sangat rendah sehingga cocok dijadikan tepung cabai. Dengan rendahnya kadar air, otomatis rendemannya menjadi tinggi.

Cabai Jet Set

Berbeda dengan Papirus, varietas Jet Set terlihat keunggulannya jika ditanam di daerah wabah penyakit layu bakteri, la pun ideal ditanam pada ketinggian di atas 500 m dpi. Agus Setiawan, pekebun cabai di Probolinggo, pernah menanam Jet Set di ketinggian 1.200 m dpi.

Hasilnya, tanaman itu berbuah dalam 3 tahap dengan produksi rata-rata 2,5 kg/tanaman. Panjang buah mencapai 23 cm dengan diameter 3 cm.

Padahal, deskripsi produsen mencantumkan, panjang buah 13 cm – 20 cm; diameter, 1,5 cm – 2,5 cm. Bobotnya 14 gram/buah. Sosok tanaman tegak dengan tinggi 100 cm, lebar 90 cm.

Cabai Jet Set disukai lantaran teksturnya keras. Di pasar swalayan Makro, Agus Setiawan menjualnya dengan merek Bromo Segar.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan hubungi: PT Tanindo Subur Prima, Jl. Surabaya – Mojokerto Km 19, Ds. Beringin Bendo-Taman. Sidoarjo 61257, Telp. (031) 7882528, Fax. (031) 7882856, PO. Box 1261 Surabaya atau SHS Building, Jl. Ancol Barat Blok A 5E No. 10, Jakarta Utara. Telepon: (021) 6910251. Faks: (021) 6915223. ***

Varietas Jeruk Saingan Baru RL dan JC

Jeruk troyer pilihan lain bagi para pekebun jeruk untuk menghasilkan bibit prima. Sebagai batang bawah, ia sangat handal dan bisa bersaing dengan RL dan JC.

Tiap jeruk berbeda responnya terhadap batang bawah yang dipasangkan. Banyak batang atas yang tidak cocok dengan batang bawah tertentu. Jeruk peninggalan Belanda yaitu RL, (rough lemon) atau JC (japanese citroen) lazim dipakai sebagai batang bawah. Namun, Ir. Moh Reza Tirtawinata, peneliti, mensinyalir jeruk-jeruk itu sudah banyak dipalsukan.

Ada yang mengaku memakai rough lemon, padahal mungkin jeruk siem apkir. “Jadi sudah ngaco,” tuturnya. Dan itu menyebabkan bagian atas tidak pernah sama kualitas produksinya.

Padahal, batang bawah sangat mempengaruhi daya tahan tanaman terhadap penyakit dan kapasitas penyerapan hara. Otomatis kualitas produksi terpengaruh, termasuk keseragaman buah. Di Australia, jeruk sudah “dijodohkan”.

Salah satu batang bawah yang dipakai adalah jeruk troyer. Jeruk ini bisa dipasangkan dengan jeruk manis, jeruk mandarin, dan bahkan pomelo, la hanya tidak cocok menjadi batang bawah lemon.

Varietas Jeruk Super bandel

Jeruktroyer, berdaun sangat rimbun. Bentuknya bercangap, batang keras dan kuat. Menurut Prakoso Heriono, pembibit tanaman di Demak, Jawa Tengah, pertumbuhan jeruk troyer miliknya sangat bandel. Tanaman itu pernahterendam aircukup lama, tetapi masih kuattumbuh.

Tanah di bawah pohon itu pernah menjadi tempat pembuangan sampah, la pun pernah dilanda kekeringan panjang. Berbagai kondisi buruk pernah dialaminya. Namun, jeruk itu tetap bisa tumbuh baik, bahkan menghasilkan buah, meski rasanya asam pahit.

Karenanya Prakoso Heriono yakin, jeruk troyer sangat baik untuk batang bawah. Dan amat cocok untuk daerah Demak yang tanahnya tergolong lempung berliat. Bila hujan, tanah jadi becek, air sulit meresap ke bawah, dan bila kering, sampai merekah.

Cabang jeruk yang disetek pun tumbuh baik dan kuat, la lalu menyambungnya dengan jeruk ponkan. Hasilnya, jeruk asal Taiwan ini bisa tumbuh baik di Demak.

Tanaman yang telah disambung jeruk troyer tidak terjamin bebas serangan hama dan penyakit. Menurut Reza, pengganggu ini biasanya akan menyerang mulai perbatasan batang bawah ke atas. Jadi, yang bisa ditolong oleh batang bawah yaitu : menghindarkan dari serangan hama tanah, tanah salinitas tinggi, memperbesar penyerapan hara dan air, dan daya tahan terhadap angin keras.

Kohaku Raja Kontes Koi Bandung

Kohaku kembali unjuk gigi. The 2nd Bandung Chapter International Koi Show didominasi oleh ikan merah putih ini. Empat gelar bergengsi, satu di antaranya grand champion disabet. Dominasi berikut diraih showa sanshoku, disusul keluarga shiro.

Ajang lomba di Istana Bunga Lembang itu patut menjadi catatan. Untuk ukuran Indonesia, inilah pameran terbesar yang pernah diselenggarakan. Sejumlah 975 koi didatangkan dari berbagai kota di Indonesia.

Bahkan ada pula peserta dari Jepang dan Singapura yang unjuk gigi. “Prestasi yang cukup membanggakan,” ujar Edy Sukamto, ketua ZNA Chapter Bandung. Menurut Wendi Kumia, ketua panitia, juri didatangkan dari Jepang (3 orang), Hongkong (3), dan Taiwan (2).

Koi milik Cheng Kwok Kwai dinobatkan sebagai grand champion lantaran penampilannya prima dengan warna kontras. Anatomi tubuh pun proporsional.

Cara juri menilai koi dianggap cukup selektif oleh para peserta. Hiroyuki Miyamoto terlihat sangat memperhatikan warna kontras. “Dia cermat melihat kiwa (batas warna antara 2 sisik, red),” ujar Bagus M,

“Yang dinilai cenderung kecemerlangan warna dan anatomi,” tambahnya. Pendapat itu diamini peserta lain. Kohaku milik hobiis dari Yogyakarta ini dinobatkan sebagai juara 3 kelas <25 cm

Harus prima

Selain Bagus, bintang keberuntungan jatuh ke pangkuan Sutrisno. Kohakunya dinobatkan sebagai young champion. Untuk meraih gelar terhormat itu ia harus mengalahkan 100 pesaing di kelas 35— 45 cm.

Ini sebuah kejutan buat Sutrisno. Sebab, ia sebetulnya lebih menaruh harapan ke 8 koi lain yang dipersiapkan khusus. Koi peraih young champion itu justru semula dititipkan ke rekannya di Surabaya.

Toh, usahanya memberikan spirulina kepada 8 koi jagoannya tetap membuahkan hasil. Tanchonya yang bertanding di kelas 35—45 cm merebut gelar nomor satu; shusui, juara II (25—35 cm); shiro utsuri juara III (45—55 cm).

Yang tidak beruntung di lomba itu ialah Fanny Ariffian. Hobiis asal Yogyakarta itu harus pulang dengan tangan hampa. Dua jagoannya, taisho sanke dan tancho sanke gagal berprestasi..

Padahal, taisho sanke klangenannya itu 2 kali merajai lomba. Juara 1 diraih saat lomba di Blitar dan Surabaya setahun lalu. Ini kegagalan kedua setelah lomba di Yogyakarta “Kondisinya memang lagi drop,” ungkap Fanny memaklumi kegagalan sang ikan.

Dengan alasan kesehatan pula, maka Santoso tidak membawa sang jagoan ke kota kembang. Peternak asal Bantul, Yogyakarta ini sebenarnya memiliki koi juara hasil lomba di Yogyakarta. Namun, kondisinya tidak sehat sehingga ia diistirahatkan.

Di mata Hiroyuki Miyamoto, perkembangan koi di Indonesia cukup pesat. Berbekal pengalaman 35 tahun ia menilai, “Kualitas koi di sini sudah bagus,” tutur President of ZNA Tokyo Chapter itu.